Tampilkan postingan dengan label Corat-coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Corat-coret. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juli 2016

Luka

Orang-orang suku dalam merasa gagah dan bangga memperlihatkan bekas-bekas luka yg menghiasi sekujur tubuhnya

Ketika orang lain menanyakan mengenai luka tersebut, terdapat cerita-cerita heroik mengenai upaya mereka berkelahi dengan alam agar keluarga mereka dapat makan

Luka ketika mereka bertarung dengan hewan buruan mereka
Cakaran
Gigitan
Bahkan bekas tanduk dari hewan liar

Sama

Sama seperti kantong mata yg menggantung berat di wajah mereka
Sama seperti uban yg menjadi mahkota mereka
Sama seperti tubuh gempal yg menghiasi tubuh mereka
Sama seperti wajah yg kian hari kian jelek itu

Jelek? Itu kata kalian
Itu adalah pahlawan kehidupan kami
<3

Sabtu, 25 Juni 2016

Si "CINA" Ramah

Kamu, yang sudah pernah tahu siapa aku, pastinya paham betul kalau aku dikelilingi "wong cina" pada hari-hariku. "Lah, ya pasti lah... Lha, ya mesti lah... Wong aku yo ana ambu-ambu cino ne kok (lah, ya pasti lah... Soalnya aku juga ada bau-bau (keturunan) cinanya kok)(≧∇≦)/

Emang gak sedikit orang yang bertanya, itu namamu "lie" nama beneran apa nama facebook?
Kalau beneran chinesse kok item? Anak nemu di tempat sampah kali? Hahaha...

Dalam hati cuma bisa bilang "Asemmm..."
Iya, cuma dalam hati doang... Soalnya aku tahu betul, semakin aku terlihat marah atau merasa sebal, malah mereka justru bakalan makin menjadi ngejeknya.

Kemudian keluarlah jurus pamungkas supaya mereka berhenti mengejek, "di-iya-in aja". Jurus pamungkas yang aku pelajari dari seorang pembawa acara di TV, Tukul Arwana. Makin diejek, kita harus makin menerima, kalau perlu kita bisa tambahin sekalian ejekan tentang diri kita sendiri biar mereka makin bahagia. Jurus ini aku bilang 90% ampuh dan berhasil menghentikan ejekan terhadap kita, sekaligus membuat diri kita semakin "menarik" bagi orang-orang yang ada di sekitar kita. O(≧∇≦)O

Oh iya, tertawa selepas mungkin juga membantu aku dalam ber-acting bahagia. Nah di posting yang satu ini, aku bakalan share bagaimana cara kamu untuk acting. Caranya gampang banget, cukup mengatakan "a-haha-hahaha-haha-haha". Gampang banget kan? Itu dialog yang harus kamu hafalkan dalam acting bahagia.

Sekali lagi ya, "a-haha-hahaha-haha-haha"
Harus ingat yaaa... "a-haha-hahaha-haha-haha"

Penting untuk kamu melatih intonasi yang akan kamu ginakan agar terlihat lebih natural. Jadi, mereka, para penonton, akan merasa bahwa kamu benar-benar bahagia.

Untuk gesture alias gerakan tubuh, ada beberapa pengembangan misalnya ketawa sambil gedor-gedor meja. Tapi jangan terlalu keras nanti rusak mejanya. Kalau perut kamu mendukung, kamu bisa megang perut kamu yang agak semok itu, karena orang yang perutnya agak "berisi" biasanya menahan guncangan di bagian itu ketika tertawa. Kamu juga bisa menaik-turunkan bagian kepala dan bahu kamu. Sekali "ha", sekali naik turun, sekali "ha", sekali naik turun. Jadi memang temponya agak cepat.

Untuk mimik wajah coba lihat emotikon berikut ini
( ^∇^)
Ya, pastinya kamu gak akan benar-benar melakukan ini, ini cuma sekedar gambaran bagaimana otot-otot wajah kamu akan kamu tarik sedemikian rupa sehingga mulut kamu agak menganga, yang membuat otot pipi agak tertahan berat dan terkumpul, yang membuat otot pipi mendorong bagian bawah mata, yang membuat bagian mata sedikit tertutup.

Latihan biasanya dilakukan di depan cermin.
Kamu harus melakukan semua step tersebut secara maksimal dalam waktu yang bersamaan. Karena kamu cuma memiliki satu kesempatan untuk mendapatkan hasil yang kamu inginkan.

Itu kalau ketawa, atau bahkan ada yang bilang ngakak.

Kalau misal diajak kenalan sama orang yang baru dijumpai kan gak mungkin kita ngakak. Supaya terlihat ramah, akmu bisa menirukan emotikon yang ini
(^ω^)
Nah, loh... Makin ribet kan? Hahaha

Hampir sama sebenernya untuk mimik wajahnya. Tapi yang membedakan cuma mulut gak mangap. Dan mata cuma menyipit. Kalau kamu "cina" kamu akan terlihat agak merem. Dan makin merem, makin terlihat ramah. (≧∇≦)/

Hahahaha... Postingan menyesatkan...

Rabu, 13 Maret 2013

si Mata Satu


Kotak gelap nan pengap tak lagi menyesakkan nafasku
Bukan seperti anak anjing yang riang mengejar ekornya sendiri
Namun, sebahagia itulah aku
Bebas, tak lagi terbelenggu

Di antara peluk telapak tangan hangat itu
Aku koki yang menyajikan hidangan memori sang Tuan Ramah
Ku saksikan momentum kemenangan sang Nyonya Bahagia

Ku ceritakan semua padamu, Dunia
Ku syairkan lirik-lirik kerinduan

Hahahaha…
Nampaknya semakin membesar kepalaku
…
Andai aku punya

Kala itu aku menemani sang Tuan mengukir jejaknya
Tersenyum-senyum aku melihatnya
Terkekeh-kekeh di antara kawan seperjalanannya

“Ah Tuan… jangan mengusap wajahku seperti itu”
Batinku dalam hati,
Pastinya pipiku tak kan memerah seperti mereka para gadis desa
Aku tahu ini saatnya aku harus bekerja
Mengabdi kepada Tuanku

Lamunan Pengelana


Sunyi sepi  gurun menyelimuti  perjalanan kudaku
Asik sendiri mengangguk mengikuti irama
Apa kau menikmati musik syahdu pasir berbisik?
Nampaknya aku mulai menikmatinya juga

Kau tahu, kuda?
Sering kali gunung pasir itu lukisan bagiku
Paras gadis gurun yang kita jumpai tempo hari
Oase tak lagi permata gurun tanpanya
Bulan purnama tak cukup terang melawan elok matanya

Ah, kau kuda…
Terkikih saja karna lamunanku
Beruntung awan menutup sinar rembulan
Sembunyikan wajah merah padam

Adakah gadis gurun menanti?
Hanya sekedar penambah semangat
Piramida-piramida itu menanti tuk ku jemput
‘kan ku bongkar rahasia harta karun
Pasti… 



inspired from "The Alchemist"

Jumat, 25 Januari 2013

Realita

Sekian banyak ceritapun terukir
Walau kadang senyum harus tersingkir
Namun tak ingin semua berakhir

Bila sudah datang senja itu
Ingin semua lekas berlalu
Kan nyalakan semangat baru
Walau tau kan merindu

Lembar baru dengan pengalaman
Dengan dirinya sebagai acuan
Tuk mulai cerita dengan kebenaran
Agar tak sirna yang tlah menjadi tujuan

...dan kini...

Terik siang menemami perjalanan seorang tua
Menyengat kulitnya, menyengat badannya
Perih terasa walau tak luka
Menerpa tubuh rapuh si tua renta

Siksa di rasanya tiada tara
Ketika bekerja menahan dahaga
Serasa ia menahan seonggok bara
Iba ku melihatnya
Jiwa merana, menjalani sebuah drama

...dipermainkan impian mudanya...

Untukmu Kawan Kecil

baru saja aku terbangun dari perantauan mimpi
tak ku temukan yang menyejukkan embun hati
sekarang aku menghardik diri,
berteriak sampai puas di padang ilalang

tak sampai di situ,
kenangan lama terukir lagi
mencabik relung yang kudaki dengan kesucian
begitu mudahnya hamparan jiwa tersapu oleh kemunafikan
untuk sekedar menyelami kesenangan semu

aku bingung, mengapa untaian kata berubah haluan
seorang laki-laki bimbang di pergumulan ombak
terhempas dari teguhnya dinding-dinding hati
meratapi setiap langkah kakinya yang sesat

ia ingin kembali tuk pergi ke masa lalunya
menjemput mimpi-mimpi kecilnya yang tertinggal
"aku ingin kembali ke masa itu dan selalu dalam lindungan cahaya itu"


"aku slalu merindukanmu..."

Tak Berakhir Disini

Berderit-derit kursi bambu
Menampakkan si tua tak membatu
Masih ada tenaga sebelum nisan yg menunggu
Tempat dimana tanah berbuku-buku
Diraih tongkat kayu
Menopang seonggok tubuh layu
Setelah disulutnya semangat yg lalu
Melepaskan diri dari belenggu
Masa lalu yang kelabu

Tangisan Kemarau

Kami para yang menghadap langit di atas teratai
Bernyanyi sangau menuntut hujan
Berduyun-duyun mengisi ruang retak Bumi ini
Cukup, tidak kurang terlebih berlebih
Agar air naik dan mengangkat tempat kami para buruk rupa
Tepat mendekat altarMu wahai Maha Merdu
Sejajar tunduk kami dengan tanah atas kuasaMu yang kami tahu akan kami hadapi segera
Dan sebagaian kami lain tetap bernyanyi pujian atas Engkau wahai Maha Menyejukkan
Kami tahu semua ini tak sebanding yg kami minta
Namun hanya padaMu kami berdendang

Besok Imlek

Berdehem-dehem dia diserang bau dupa yang menyengat
Sedikit ditahannya sesak dada tubuh ringkihnya
Tersenyum patung dewa di antara lilin-lilin itu melihat Pak Tua
Hei! Patung-patung itu memang selalu tersenyum di sana

Entah apa yang ada dalam benaknya
Memejamkan mata, dengan dupa di depat dahinya
Beberapa lama dia berdiri di sana
Tiga ayunan dupa disusul kepalan tangan mengakhiri doanya

Tergopoh-gopoh ia membawa diri kembali ke gubug itu

Semakin pusing aku melihat tingkahnya malam ini
Mungkin ranjang berdebu itu sedikit kecewa
Malam ini Pak Tua tidak langsung menidurinya


Pak Tua lebih memilih duduk memasukan lembaran kertas dalam kertas lain
Aku suka warna kertas pembungkus itu
Sama seperti lilin-lilin raksasa tadi

Berderit-derit kursi yang dipungutnya tempo hari
Nada itu menghipnotisku untuk memejamkan
Aku tetap setia menemaninya malam ini walau sedikit kantuk
Namun, rasa penasaranku belum terobati
Untuk apa kertas-kertas itu
Aku kira Pak Tua suka mengkoleksi kertas-kertas itu
Ah! aku tak tahu apa yang dilakukannya

Apa peduliku?
Toh aku hanya seekor anjing pincang

.....