Kotak gelap
nan pengap tak lagi menyesakkan nafasku
Bukan
seperti anak anjing yang riang mengejar ekornya sendiri
Namun,
sebahagia itulah aku
Bebas, tak
lagi terbelenggu
Di antara
peluk telapak tangan hangat itu
Aku koki
yang menyajikan hidangan memori sang Tuan Ramah
Ku saksikan
momentum kemenangan sang Nyonya Bahagia
Ku ceritakan
semua padamu, Dunia
Ku syairkan
lirik-lirik kerinduan
Hahahaha…
Nampaknya
semakin membesar kepalaku
…
Andai aku
punya
Kala itu aku
menemani sang Tuan mengukir jejaknya
Tersenyum-senyum
aku melihatnya
Terkekeh-kekeh
di antara kawan seperjalanannya
“Ah Tuan…
jangan mengusap wajahku seperti itu”
Batinku
dalam hati,
Pastinya
pipiku tak kan memerah seperti mereka para gadis desa
Aku tahu ini
saatnya aku harus bekerja
Mengabdi kepada
Tuanku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar