Rabu, 13 Maret 2013

si Mata Satu


Kotak gelap nan pengap tak lagi menyesakkan nafasku
Bukan seperti anak anjing yang riang mengejar ekornya sendiri
Namun, sebahagia itulah aku
Bebas, tak lagi terbelenggu

Di antara peluk telapak tangan hangat itu
Aku koki yang menyajikan hidangan memori sang Tuan Ramah
Ku saksikan momentum kemenangan sang Nyonya Bahagia

Ku ceritakan semua padamu, Dunia
Ku syairkan lirik-lirik kerinduan

Hahahaha…
Nampaknya semakin membesar kepalaku
Andai aku punya

Kala itu aku menemani sang Tuan mengukir jejaknya
Tersenyum-senyum aku melihatnya
Terkekeh-kekeh di antara kawan seperjalanannya

“Ah Tuan… jangan mengusap wajahku seperti itu”
Batinku dalam hati,
Pastinya pipiku tak kan memerah seperti mereka para gadis desa
Aku tahu ini saatnya aku harus bekerja
Mengabdi kepada Tuanku

Lamunan Pengelana


Sunyi sepi  gurun menyelimuti  perjalanan kudaku
Asik sendiri mengangguk mengikuti irama
Apa kau menikmati musik syahdu pasir berbisik?
Nampaknya aku mulai menikmatinya juga

Kau tahu, kuda?
Sering kali gunung pasir itu lukisan bagiku
Paras gadis gurun yang kita jumpai tempo hari
Oase tak lagi permata gurun tanpanya
Bulan purnama tak cukup terang melawan elok matanya

Ah, kau kuda…
Terkikih saja karna lamunanku
Beruntung awan menutup sinar rembulan
Sembunyikan wajah merah padam

Adakah gadis gurun menanti?
Hanya sekedar penambah semangat
Piramida-piramida itu menanti tuk ku jemput
‘kan ku bongkar rahasia harta karun
Pasti… 



inspired from "The Alchemist"