Jumat, 25 Januari 2013

Realita

Sekian banyak ceritapun terukir
Walau kadang senyum harus tersingkir
Namun tak ingin semua berakhir

Bila sudah datang senja itu
Ingin semua lekas berlalu
Kan nyalakan semangat baru
Walau tau kan merindu

Lembar baru dengan pengalaman
Dengan dirinya sebagai acuan
Tuk mulai cerita dengan kebenaran
Agar tak sirna yang tlah menjadi tujuan

...dan kini...

Terik siang menemami perjalanan seorang tua
Menyengat kulitnya, menyengat badannya
Perih terasa walau tak luka
Menerpa tubuh rapuh si tua renta

Siksa di rasanya tiada tara
Ketika bekerja menahan dahaga
Serasa ia menahan seonggok bara
Iba ku melihatnya
Jiwa merana, menjalani sebuah drama

...dipermainkan impian mudanya...

Untukmu Kawan Kecil

baru saja aku terbangun dari perantauan mimpi
tak ku temukan yang menyejukkan embun hati
sekarang aku menghardik diri,
berteriak sampai puas di padang ilalang

tak sampai di situ,
kenangan lama terukir lagi
mencabik relung yang kudaki dengan kesucian
begitu mudahnya hamparan jiwa tersapu oleh kemunafikan
untuk sekedar menyelami kesenangan semu

aku bingung, mengapa untaian kata berubah haluan
seorang laki-laki bimbang di pergumulan ombak
terhempas dari teguhnya dinding-dinding hati
meratapi setiap langkah kakinya yang sesat

ia ingin kembali tuk pergi ke masa lalunya
menjemput mimpi-mimpi kecilnya yang tertinggal
"aku ingin kembali ke masa itu dan selalu dalam lindungan cahaya itu"


"aku slalu merindukanmu..."

Tak Berakhir Disini

Berderit-derit kursi bambu
Menampakkan si tua tak membatu
Masih ada tenaga sebelum nisan yg menunggu
Tempat dimana tanah berbuku-buku
Diraih tongkat kayu
Menopang seonggok tubuh layu
Setelah disulutnya semangat yg lalu
Melepaskan diri dari belenggu
Masa lalu yang kelabu

Tangisan Kemarau

Kami para yang menghadap langit di atas teratai
Bernyanyi sangau menuntut hujan
Berduyun-duyun mengisi ruang retak Bumi ini
Cukup, tidak kurang terlebih berlebih
Agar air naik dan mengangkat tempat kami para buruk rupa
Tepat mendekat altarMu wahai Maha Merdu
Sejajar tunduk kami dengan tanah atas kuasaMu yang kami tahu akan kami hadapi segera
Dan sebagaian kami lain tetap bernyanyi pujian atas Engkau wahai Maha Menyejukkan
Kami tahu semua ini tak sebanding yg kami minta
Namun hanya padaMu kami berdendang

Besok Imlek

Berdehem-dehem dia diserang bau dupa yang menyengat
Sedikit ditahannya sesak dada tubuh ringkihnya
Tersenyum patung dewa di antara lilin-lilin itu melihat Pak Tua
Hei! Patung-patung itu memang selalu tersenyum di sana

Entah apa yang ada dalam benaknya
Memejamkan mata, dengan dupa di depat dahinya
Beberapa lama dia berdiri di sana
Tiga ayunan dupa disusul kepalan tangan mengakhiri doanya

Tergopoh-gopoh ia membawa diri kembali ke gubug itu

Semakin pusing aku melihat tingkahnya malam ini
Mungkin ranjang berdebu itu sedikit kecewa
Malam ini Pak Tua tidak langsung menidurinya


Pak Tua lebih memilih duduk memasukan lembaran kertas dalam kertas lain
Aku suka warna kertas pembungkus itu
Sama seperti lilin-lilin raksasa tadi

Berderit-derit kursi yang dipungutnya tempo hari
Nada itu menghipnotisku untuk memejamkan
Aku tetap setia menemaninya malam ini walau sedikit kantuk
Namun, rasa penasaranku belum terobati
Untuk apa kertas-kertas itu
Aku kira Pak Tua suka mengkoleksi kertas-kertas itu
Ah! aku tak tahu apa yang dilakukannya

Apa peduliku?
Toh aku hanya seekor anjing pincang

.....