Minggu, 25 September 2016

Ya...! Saya Sang Pengusaha Muda



Sekarang kalau lagi kumpul reuni sama temen SMA atau temen kuliah, salah satu pertanyaan yang diluncurkan kepada kita adalah “Sekarang kamu dimana (maksudnya kerja dimana)?”

Pertanyaan simple tapi sering kali susah untuk dijawab terutama untuk mereka yang tidak, atau setidaknya “belum” punya pekerjaan tetap. Sekolah tinggi-tinggi, kok belum punya pekerjaan tetap. Sedikitnya ada perasaan tidak mengenakkan untuk suatu pertemuan yang seharusnya menggembirakan karena bertemu lagi dengan sahabat-sahabat lawas.

Beberapa ada yang menjawab jujur dengan sedikit menundukkan kepala karena malu, beberapa yang lain senyum-senyum yang dipaksakan menutupi rasa malunya. Tapi akan ada segelintir orang yang dengan tegap menjawab dengan gagahnya bahwa dia tidak bekerja. Iya, tidak bekerja. Tapi berwirausaha, entah apapun itu. Mulai dari jualan makanan, punya produksi garmen, online seller dan bahkan aktifis sekaligus trainer pengembangan diri.

Pendapatan mereka tidak kalah kok bagi yang menjalankan bisnisnya secara serius. Ada yang dalam usia belia sudah mampu menghidupi keluarganya “hanya” dengan berjualan online. Bukan harga mati lagi ketika kita sudah menyelesaikan studi kita, lalu kita “harus” bekerja.

“Daripada bekerja ikut orang yang seadanya, mendingan kerja sendiri, kalau bisa  malah besok bayar orang biar kerja untuk kita”

Katakanlah “orang kantoran” bergaji Rp 2 juta perbulan, berikut adalah perhitungan harga tenaganya yang dibayar oleh bos mereka :

Rp 2.000.000 : 26 hari = Rp 76.923/hari dibulatkan menjadi Rp 77.000/hari
Perhitungan tersebut cuma gambaran kasar dari pendapatan dari “seorang kantoran” yang berangkat jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore setiap hari senin sampai dengan hari minggu. Yang artinya ada 8 jam bekerja di kantor (terlepas jam lembur) + waktu perjalanan rumah ke kantor + waktu perjalanan kantor ke rumah dalam sehari yang mereka lewatkan untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai seperti berkumpul dengan keluarga atau menjalankan hobi mereka.

Kita cari gambaran lain untuk wirausahawan muda yang “disamakan” dengan pendapatan orang kantoran tadi. Katakanlah wirausahawan muda ini berjualan baju yang diambilnya dari pasar Klewer, Solo. Harga 1 potong celana santai dari pasar Rp 15 ribu, dijual kembali keuntungan 5 ribu (karena grosir tidak memungkinkan untuk mengambil keuntungan banyak). Kemudian perhitungan keuntungan untuk mencapai 2 juta adalah sebagai berikut :

Rp 2.000.000/bulan : Rp 5.000 = 400 potong/bulan = 13,33 potong/hari atau di bulatkan 14 potong / hari
Dengan menggunakan fitur media sosial seperti bukalapak.com , facebook.com , instagram , blogger dan lain sebagainya, pasti akan memakan banyak waktu untuk mengetik “spek” atau keterangan mengenai apa yang kita jual di masing-masing media tersebut. TAPI… sekali kita posting ke media tersebut akan ada banyak orang yang berkali-kali dapat melihat iklan mengenai dagangan wirausahawan muda tersebut.

***Teringat pada suatu cerita dari buku tulisan Robert T Kiyosaki mengenai “Pipo dan Ambero”. Ambero adalah seseorang yang menggunakan ember untuk mengambil air di mata air yang ada di gunung untuk memenuhi kebutuhan air desanya. Semua orang bahagia ketika setiap hari Ambero terus bekerja dan air tercukupi. Di sisi lain Pipo adalah seseorang yang membangun saluran pipa untuk mengalirkan air ke desa. Butuh waktu lama agar saluran itu selesai. Pada bulan ke tiga akhirnya saluran pipa tersebut terselesaikan. Kebutuhan air desa semakin tercukupi. Untuk hari-hari berikutnya Pipo hanya sesekali mengecek saluran pipanya, tidak demikian Ambero yang terus bekerja mengangkat ember setiap hari.***

Apapun perkerjaan kamu, lakukanlah bila menurutmu itu terbaik untuk dirimu dan orang-orang di sekitarmu.
SUKSES ITU APA?
Dinilai dari jenis pekerjaanmu kah? Atau jumlah rupiah yang kamu dapatkan?

Nggak usah muluk-muluk cari tau tentang apa itu nilai hakiki sukses yang paling benar itu apa. Sukses itu ada dalam dirimu yang dibentuk oleh pemikiran-pemikiran yang ditanamkan oleh lingkunganmu.

“Kalau menurutmu?”

Menurutku? Sukses itu dinilai dari seberapa banyak kita bisa memberi kepada orang lain.

Tidak harus hidup kaya raya bermandikan harta benda, tidak harus sehat selalu sepanjang hayat. Cukup berkecukupan pada suatu waktu. Cukup sehat untuk berjuang. Cukup rejeki untuk melanjutkan perjuangan berikutnya. Lalu kenapa harus terus berjuang? Ya karena sebanyak apapun kita memberi, belum tentu kita dapat mencukupkan semua orang yang ada di sekitar. :D
So… keep on fight!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar