Sekarang
kalau lagi kumpul reuni sama temen SMA atau temen kuliah, salah satu pertanyaan
yang diluncurkan kepada kita adalah “Sekarang kamu dimana (maksudnya kerja
dimana)?”
Pertanyaan
simple tapi sering kali susah untuk dijawab terutama untuk mereka yang tidak,
atau setidaknya “belum” punya pekerjaan tetap. Sekolah tinggi-tinggi, kok belum
punya pekerjaan tetap. Sedikitnya ada perasaan tidak mengenakkan untuk suatu
pertemuan yang seharusnya menggembirakan karena bertemu lagi dengan
sahabat-sahabat lawas.
Beberapa
ada yang menjawab jujur dengan sedikit menundukkan kepala karena malu, beberapa
yang lain senyum-senyum yang dipaksakan menutupi rasa malunya. Tapi akan ada
segelintir orang yang dengan tegap menjawab dengan gagahnya bahwa dia tidak
bekerja. Iya, tidak bekerja. Tapi berwirausaha, entah apapun itu. Mulai dari
jualan makanan, punya produksi garmen, online seller dan bahkan aktifis
sekaligus trainer pengembangan diri.
Pendapatan
mereka tidak kalah kok bagi yang menjalankan bisnisnya secara serius. Ada yang
dalam usia belia sudah mampu menghidupi keluarganya “hanya” dengan berjualan
online. Bukan harga mati lagi ketika kita sudah menyelesaikan studi kita, lalu
kita “harus” bekerja.
“Daripada
bekerja ikut orang yang seadanya, mendingan kerja sendiri, kalau bisa malah besok bayar orang biar kerja untuk kita”
Katakanlah
“orang kantoran” bergaji Rp 2 juta perbulan, berikut adalah perhitungan harga
tenaganya yang dibayar oleh bos mereka :
Rp
2.000.000 : 26 hari = Rp 76.923/hari dibulatkan menjadi Rp 77.000/hari
Perhitungan
tersebut cuma gambaran kasar dari pendapatan dari “seorang kantoran” yang
berangkat jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore setiap hari senin sampai dengan hari
minggu. Yang artinya ada 8 jam bekerja di kantor (terlepas jam lembur) + waktu
perjalanan rumah ke kantor + waktu perjalanan kantor ke rumah dalam sehari yang
mereka lewatkan untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai seperti berkumpul
dengan keluarga atau menjalankan hobi mereka.
Kita
cari gambaran lain untuk wirausahawan muda yang “disamakan” dengan pendapatan
orang kantoran tadi. Katakanlah wirausahawan muda ini berjualan baju yang diambilnya
dari pasar Klewer, Solo. Harga 1 potong celana santai dari pasar Rp 15 ribu,
dijual kembali keuntungan 5 ribu (karena grosir tidak memungkinkan untuk
mengambil keuntungan banyak). Kemudian perhitungan keuntungan untuk mencapai 2
juta adalah sebagai berikut :
Rp
2.000.000/bulan : Rp 5.000 = 400 potong/bulan = 13,33 potong/hari atau di
bulatkan 14 potong / hari
Dengan
menggunakan fitur media sosial seperti bukalapak.com , facebook.com , instagram
, blogger dan lain sebagainya, pasti akan memakan banyak waktu untuk mengetik “spek”
atau keterangan mengenai apa yang kita jual di masing-masing media tersebut.
TAPI… sekali kita posting ke media tersebut akan ada banyak orang yang
berkali-kali dapat melihat iklan mengenai dagangan wirausahawan muda tersebut.
***Teringat
pada suatu cerita dari buku tulisan Robert T Kiyosaki mengenai “Pipo dan Ambero”.
Ambero adalah seseorang yang menggunakan ember untuk mengambil air di mata air
yang ada di gunung untuk memenuhi kebutuhan air desanya. Semua orang bahagia
ketika setiap hari Ambero terus bekerja dan air tercukupi. Di sisi lain Pipo
adalah seseorang yang membangun saluran pipa untuk mengalirkan air ke desa. Butuh
waktu lama agar saluran itu selesai. Pada bulan ke tiga akhirnya saluran pipa
tersebut terselesaikan. Kebutuhan air desa semakin tercukupi. Untuk hari-hari
berikutnya Pipo hanya sesekali mengecek saluran pipanya, tidak demikian Ambero
yang terus bekerja mengangkat ember setiap hari.***
Apapun
perkerjaan kamu, lakukanlah bila menurutmu itu terbaik untuk dirimu dan
orang-orang di sekitarmu.
SUKSES
ITU APA?
Dinilai
dari jenis pekerjaanmu kah? Atau jumlah rupiah yang kamu dapatkan?
Nggak
usah muluk-muluk cari tau tentang apa itu nilai hakiki sukses yang paling benar
itu apa. Sukses itu ada dalam dirimu yang dibentuk oleh pemikiran-pemikiran
yang ditanamkan oleh lingkunganmu.
“Kalau
menurutmu?”
Menurutku?
Sukses itu dinilai dari seberapa banyak
kita bisa memberi kepada orang lain.
Tidak
harus hidup kaya raya bermandikan harta benda, tidak harus sehat selalu
sepanjang hayat. Cukup berkecukupan pada suatu waktu. Cukup sehat untuk
berjuang. Cukup rejeki untuk melanjutkan perjuangan berikutnya. Lalu kenapa
harus terus berjuang? Ya karena sebanyak apapun kita memberi, belum tentu kita
dapat mencukupkan semua orang yang ada di sekitar. :D
So…
keep on fight!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar